Khazanah Ramadhan Ekonomi Syariah

Tema: “Ar-Rayyan Menanti: Siapkah Kita?”
Oleh: Gus Lukmanul Khakim (Budayawan). PP Tahfidz & Tilawatil Qur’an – Surabaya

Bulan Romadhon adalah bulan suci, bulan yang dikhususkan untuk umat islam kembali – menunaikan kewajiban dengan menganali kepedulian, antara diri sendiri dengan pantauan Tuhan.

Bulan Romadhon adalah wadah ibadah kewajiban, dalam menjalankan rukun islam. Dengan luasnya akses, sehingga beberapa agama juga ikut menghargai.

Bulan Romadhon adalah bulan turunnya Al-quran, dimana atau siapapun yang bersanding dengannya akan selalu dibersamai dengan derajat kemuliaan.

Dari tahap-tahap perjalanan ibadah ini ada banyak toleransi bagi pemeluk islam untuk tidak berpuasa, dimana saat mereka melaksanakan perjalanan atau dibilang menjadi musyafir, mereka diperbolehkan tidak puasa. Bagi siapa yang sakit, berhalangan – haid, mereka boleh tidak puasa, namun disaat mereka telah melobangi ibadah tersebut, mereka tetap harus mengingat untuk menambal. -Mengqodo puasanya sesuai dengan kapan hari mereka meninggalkannya.

Dengan landasan toleransi ini, telah diberikan gambaran, bahwa, sepenting itu menjalankan ibadah puasa, dilandasi dengan rukun islam, yang juga ada efek dan pengaruh untuk kestabilan kesehatan manusia.

Lantaran jaman kejaman, perlahan menutupi – kesadaran – atas goncangan berbagai godaan dari kerja berat, atau godaan warung yang masih melebarkan sayap dalam mencari nafkah dan perkara hawa nafsu yang belum bisa ditundukkan. Sehingga nafsu-nafsu ketahanan bergulir, mengikuti daya tarik yang berada di sekitar untuk memberatkan puasa.

puasa pun terabaikan, bolong dan dijalankan pada suatu hari ketika mereka benar-benar ingin menebusnya. itu pun kalau ingat ya…

Dalam suatu hadis dikatakan dalam kitab shahih bukhari : rasulullah bersabda, di surga ada sebuah pintu yang dinamakan ar-rayan. orang-orang berpuasa akan masuk dari pintu itu pada hari kiamat. tidak ada yang memasukinya selain mereka, nanti akan ada yang berseru, dimana orang-orang yang berpuasa? maka orang yang berpuasa berdiri – dan memasuki pintu itu, selain mereka tidak akaan ada yang memasukinya, jika mereka sudah masuk maka pintu tersebut akan di tutup dan tak seorang pun akan masuk melaluinya.

Dimana Surga telah merindukan siapa pelaksana puasa, dan sangat sayang sekali bila manusia tidak menjalankannya. Dalam hadis lain dikatakan : orang yang rajin sholat akan dipanggil dari pintu sholat, orang yang giat berjihad akan dipanggil di pintu jihad , orang yang aktif berpuasa dia akan di panggil dari pintu arrayan. orang yang bersedekah di angil lewat pintu sedekah.

abu bakar bertanya, bukankah orang yang dipanggil dari satu pintu itu sudah cukup? tidak perlu lagi dipanggil dari pintu-pintu yang lain? sabda nabi menjawab iya, dan aku berharap engkau akan menjadi salah satu dari mereka ( yang di panggil dari semua pintu).

Oleh karena itu saudara, mari kita kuatkan tekad untuk menjalankan ibadah ini dengan baik, lantaran kesempatan bulan ini mempermudah pelaku ibadah puasa untuk dilakukan pada bulan romadhon. dari pada dilakukan di bulan lain. Oleh karena itu saudara, Bulan ini adalah wadah untuk meraih pintu-pintu surga yang banyak, lantaran, pada bulan ini telah dikalilipatkan segala kebaikan dalam memperoleh pahala-pahala yang maksimal, untuk bisa meraih prestasi dari jalur pintu-pintu surga.

Sekian yang bisa kita sampaikan, mari kita menjalankan ibadah ini dengan baik, membangun taqwa dengan menjalankannya dan memperindah momentum bulan mulia ini dengan membaca alquran, berdzikir sepanjang hari dan menjalankan kebaikan-kebaikan agar kita diridhoi oleh Allah SWT.

 (والله أعلم بالصواب

مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا
Maula ya sholli wasallim daiman Abada

عَلىٰ حـَبِيْبِكَ خـَيْرِ الْخَلْقِ كًلِّهِمِ
A’la habibika khoiril kholqi kullihimi

مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا
Maula ya sholli wasallim daiman Abada

عَلىٰ حـَبِيْبِكَ خـَيْرِ الْخَلْقِ كًلِّهِمِ
A’la habibika khoiril kholqi kullihimi

هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجٰی شَفَاعَتُهٗ
Huwal habibulladzi turja syafa’atuhu

لِکُلِّ هَوْلٍ مِنَ الْأَهْوَالِ مُقْتَحِمِ
Likulli haulin minal ahwali muqtahami. ِ

أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِی سَلَم ِ
Amin tadzakkuri jironin bidzi salami

مَزَجْتَ دَمْعَا جَرَی مِنْ مُّقْلَةِ بِدَم
Mаzаjtа dаm’an jаro min muԛlаtіn bіdаmі.

يَارَبِّ بِالْمُصْطَفٰی بَلِغْ مَقَا صِدَنَا
Ya robbi bil Mushthofa balligh maqo shidana

وَاغْفِرْلَنَا مَامَضٰی يَاوَاسِعَ الْكَرَمِ
Waghfir lana mamadlo ya wasi’al karomi.

مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا
Maula ya sholli wasallim daiman abada

عَلىٰ حـَبِيْبِكَ خـَيْرِ الْخَلْقِ كًلِّهِمِ
Ala habibika khoiril kholqi kullihimi.

Khazanah Ramadhan Ekonomi Syariah

Hakikat Puasa dan Pengendalian Nafsu Konsumtif
Ihya’ Ulumuddin (Kitab Asrorush Shoum-Rahasia Rahasia Puasa)

Pemateri: Reka Sakhinatur Rochma, S.E., M.E

Setiap kali memasuki bulan suci Ramadhan, kita sering mendengar hadis yang mengatakan bahwa syaitan-syaitan dibelenggu. Namun, seringkali muncul pertanyaan besar dalam pikiran kita: “Jika syaitan terkunci, mengapa keinginan untuk hidup mewah, nafsu belanja yang berlebihan, dan sifat konsumtif justru semakin meningkat tajam di bulan ini?” Nyatanya, masih ada satu pintu godaan yang tetap terbuka lebar jika kita tidak waspada, yaitu pintu syahwat yang muncul dari dalam nafsu kita sendiri.

Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, dalam kitab terkenalnya, Ihya Ulumuddin, secara mendalam menjelaskan tentang misteri di balik perintah untuk menahan lapar. Beliau menegaskan:

إِنَّمَا المَقْصُودُ مِنَ الصَّوْمِ كَسْرُ الشَّهْوَةِ

“Innamal maqsuudu minash-shoumi kasrusy-syahwati.”

Artinya: “Sesungguhnya maksud dan tujuan utama dari puasa adalah untuk mematahkan kekuatan syahwat.”

Puasa bukan hanya sekadar menggeser waktu makan atau program diet, tapi merupakan perjuangan spiritual untuk mengendalikan nafsu dan melemahkan musuh yang ada di dalam diri kita. Prinsip ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah An-Nazi’at ayat 40-41:

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ . فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kehebatan Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”

Mari kita tadabburi kondisi kita saat ini. Sering terjadi kontradiksi di mana Ramadhan yang sejatinya adalah bulan “Imsak” (menahan diri), justru berubah menjadi bulan pemborosan harta.

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk melakukan Revolusi Gaya Hidup, dengan mengendalikan beberapa syahwat berikut:

  • Mematahkan syahwat perut dengan berbuka secukupnya.
  • Mematahkan syahwat harta dengan menahan diri dari belanja yang berlebihan.


“…وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ”

“…Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

  • Mematahkan syahwat pujian dengan menjauhi sifat pamer.

Kemenangan yang benar pada hari Idul Fitri tidak dinilai dari memakai pakaian yang semuanya baru, melainkan dari munculnya jiwa yang baru—jiwa yang tenang dan bisa mengendalikan keinginan duniawi agar meraih keridhaan Allah SWT.

Selamat Datang Prodi Ekonomi Syariah STIT UW Jombang

STIT UW Jombang kembali menorehkan capaian penting dalam pengembangan lembaga pendidikan tinggi Islam. Berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 1263 Tahun 2024, Program Studi Ekonomi Syariah resmi memperoleh izin operasional dan menjadi bagian dari keluarga besar Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Urwatul Wutsqo Jombang.

Ketua STIT UW Jombang, Dr. Hj. Zahrotun Ni’mah Afif, M.Pd., menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan atas bertambahnya program studi baru ini. Menurut beliau, hadirnya Prodi Ekonomi Syariah merupakan langkah strategis dalam memperluas kontribusi STIT UW Jombang di bidang pendidikan Islam yang relevan dengan kebutuhan zaman.

“Alhamdulillah, izin operasional Prodi Ekonomi Syariah telah diterbitkan oleh Kementerian Agama. Ini menjadi bukti komitmen STIT UW Jombang untuk terus berkembang dan menjawab tantangan pendidikan Islam di era ekonomi digital dan keuangan syariah,” ujar Dr. Zahrotun Ni’mah Afif.

Sementara itu, Ketua Program Studi Ekonomi Syariah, Dr. Nurul Indana, M.Pd.I, menyatakan bahwa prodi ini hadir untuk mencetak generasi muda yang berkompeten di bidang ekonomi Islam dengan landasan nilai-nilai syariah.

“Kami berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu ekonomi modern dengan prinsip-prinsip syariah, agar lulusan kami siap berkiprah sebagai akademisi, praktisi, maupun wirausahawan syariah,” tutur Dr. Nurul Indana.

Dengan hadirnya Prodi Ekonomi Syariah, STIT UW Jombang kini semakin memperkuat posisinya sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Prodi ini diharapkan menjadi wadah pengembangan ilmu pengetahuan dan riset dalam bidang ekonomi Islam yang sejalan dengan nilai-nilai moral dan spiritual.

STIT UW Jombang membuka kesempatan bagi calon mahasiswa baru yang ingin bergabung dan berkontribusi dalam membangun sistem ekonomi yang berkeadilan melalui pendidikan tinggi berbasis syariah.