Khazanah Ramadhan Ekonomi Syariah

Hakikat Puasa dan Pengendalian Nafsu Konsumtif
Ihya’ Ulumuddin (Kitab Asrorush Shoum-Rahasia Rahasia Puasa)

Pemateri: Reka Sakhinatur Rochma, S.E., M.E

Setiap kali memasuki bulan suci Ramadhan, kita sering mendengar hadis yang mengatakan bahwa syaitan-syaitan dibelenggu. Namun, seringkali muncul pertanyaan besar dalam pikiran kita: “Jika syaitan terkunci, mengapa keinginan untuk hidup mewah, nafsu belanja yang berlebihan, dan sifat konsumtif justru semakin meningkat tajam di bulan ini?” Nyatanya, masih ada satu pintu godaan yang tetap terbuka lebar jika kita tidak waspada, yaitu pintu syahwat yang muncul dari dalam nafsu kita sendiri.

Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, dalam kitab terkenalnya, Ihya Ulumuddin, secara mendalam menjelaskan tentang misteri di balik perintah untuk menahan lapar. Beliau menegaskan:

إِنَّمَا المَقْصُودُ مِنَ الصَّوْمِ كَسْرُ الشَّهْوَةِ

“Innamal maqsuudu minash-shoumi kasrusy-syahwati.”

Artinya: “Sesungguhnya maksud dan tujuan utama dari puasa adalah untuk mematahkan kekuatan syahwat.”

Puasa bukan hanya sekadar menggeser waktu makan atau program diet, tapi merupakan perjuangan spiritual untuk mengendalikan nafsu dan melemahkan musuh yang ada di dalam diri kita. Prinsip ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah An-Nazi’at ayat 40-41:

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ . فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kehebatan Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”

Mari kita tadabburi kondisi kita saat ini. Sering terjadi kontradiksi di mana Ramadhan yang sejatinya adalah bulan “Imsak” (menahan diri), justru berubah menjadi bulan pemborosan harta.

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk melakukan Revolusi Gaya Hidup, dengan mengendalikan beberapa syahwat berikut:

  • Mematahkan syahwat perut dengan berbuka secukupnya.
  • Mematahkan syahwat harta dengan menahan diri dari belanja yang berlebihan.


“…وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ”

“…Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

  • Mematahkan syahwat pujian dengan menjauhi sifat pamer.

Kemenangan yang benar pada hari Idul Fitri tidak dinilai dari memakai pakaian yang semuanya baru, melainkan dari munculnya jiwa yang baru—jiwa yang tenang dan bisa mengendalikan keinginan duniawi agar meraih keridhaan Allah SWT.

EKONOMI SYARIAH

Ekonomi Syariah adalah sistem ekonomi yang berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis. Sistem ini menekankan keadilan, keseimbangan, serta kesejahteraan bersama dalam aktivitas ekonomi. Dalam praktiknya, ekonomi syariah melarang riba, gharar (ketidakjelasan), dan maysir (perjudian), serta mendorong transaksi yang transparan dan saling menguntungkan.

Lihat Semua Postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *